Unknown

TEPAT pukul 08.30 buka gending berupa pukulan kendang/beduk berbunyi. Lalu gending Monggang dari gamelan Kiai Guntur Laut pun mulai mengalun. Iramanya kedengaran seperti meratap, menyayat sepi. Tanpa didahului pidato atau pengumuman sepatah kata pun, 14 prajurit Kopassus yang berbaret merah, berseragam loreng, pelan-pelan mengangkat jenazah Sultan Hamengku Buwono IX, yang sejak Jumat, sehari sebelumnya, disemayamkan di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta yang berkarpet merah itu. Payung kuning, yang semula dipasang di dekat peti jenazah pun dicabut, mengikuti prosesi. Lebih dari empat ribu pelayat yang hadir berdiri. Peti yang sewaktu tiba dari Jakarta ditutupi bendera merah putih itu kini telah diselimuti kain satin putih. Roncean kembang melati menghiasi peti tersebut. Bau wangi kembang dan dupa menyerbak ke segala penjuru. Gending Monggang terus mengaduh, dibunyikan oleh sepuluh penabuh,
dipimpin oleh K.R.T. Mangkoeasmoro, 76 tahun. Terakhir, gending Monggang itu dibunyikan di istana Yogyakarta 48 tahun lalu, pada 1940, tatkala Hamengku Buwono IX dinobatkan — juga oleh gamelan Kiai Guntur Laut. Gamelan yang konon berasal dari zaman Majapahit itu memang hanya untuk melagukan Monggang. Pelan-pelan peti jenazah yang terbuat dari kayu mahoni mengkilap berwarna cokelat — di peti berukuran panjang 3 meter, lebar 95 cm, dan tinggi 75 cm inilah jenazah Almarhum Sri Sultan dibawa dari AS — digotong keluar Bangsal Kencono, didahului oleh seorang kerabat yang membawa potret Sultan. Peti itu tampak berat, karena bobotnya sekitar 300 kg. Tiga wanita tua berdiri di pinggir timur Bangsal Kencono.
Masing-masing membawa sapu lidi yang diikat mori putih, sepasang kendi berisi air putih, dan kentongan bambu yang diikat mori putih di ujungnya. Kentongan bambu mulai dipukul. Pelan. Tok. Tok. Tok. Sapu lidi disapukan ke tanah yang akan dilalui peti jenazah, lalu kendi dibanting ke tanah yang telah disapu Pyar. Tok. Tok. Tok. Kentongan terus dlpukul lirih, dan iringan jenazah terus berjalan. Sapu, kendi, dan kentongan itu memang bagian dari tradisi keraton Yogya untuk pemakaman yang dilakukan pada hari Selasa atau Sabtu. Dan di hari Sabtu Wage pekan lalu itu, Hamengku Buwono IX yang lahir di malam Sabtu Pahing, 25 Rabingulakir Jimakir 1842, dengan wuku Manahil, Windu Hadi (menurut kalender Jawa), atau 12 April 1912, dimakamkan.
Dalam peti itu sendiri, posisi jenazah Sultan sudah berubah. Tatkala tiba pada Jumat pagi, wajahnya tengadah. Jumat malam sekitar pukul 22.10, mukanya dimiringkan menghadap arah kiblat, dan tangannya disedekapkan. Kepalanya diganjal dengan sebuah bantal kecil berukuran 40 X 20 cm dan dua buah guling kecil berukuran sekitar 55 X 15 cm ditempatkan pada pinggang kiri dan kanan jenazah. Bantal dan guling itu dibuat dari mori putih yang diisi dengan irisan daun pandan dan kemuning. Selain ini 9 buah gelu (bulatan tanah sebesar kepalan tangan yang diambil dari makam Imogiri) dimasukkan ke dalam peti, dua buah di samping kiri-kanan leher, di bahu, pinggang, dan lutut. Gelu kesembilan ditempatkan di ubun-ubun jenazah Sultan. Maksudnya agar jenazah itu menyatu dengan tanah kuburnya. Satu-satunya barang milik mendiang yang ikut dikuburkan adalah kain kampuh. Kain batik berwarna keemasan berukuran 3 X 3 meter ini biasa dikenakan saat seorang raja dinobatkan.
Kabarnya, kain ini dipesan oleh Hamenku Buwono IX pribadi pada 1985. Sultan memesan dua lembar. Selembar diberikannya pada Gusti Kanjeng Raden Ayu Sindurejo, kakak Sultan, beberapa hari sebelum Ny. Sindurejo meninggal pada 17 Oktober 1985. “Ini untuk selimut Mbakyu. Dan kain kampuh yang satunya ini akan saya pakai sendiri,” ucap Sultan waktu itu. “Tapi Kanjeng Sultan belum sempat memakai kain itu, dan sekarang sudah surut (meninggal,” kata R.M. Ibnu Muntarto, salah seorang cucu Hamengku Buwono VIII. Monggang mengalun terus. Bergantian, prajurit Kopassus, para sentono (keluarga) dan abdi dalem mengusung jenazah itu ke arah regol (pintu gerbang) Magangan, yang berjarak 100 meter. Isak tangis sejumlah tamu dan abdi dalem berbaur dengan toktok kentongan dan alunan monggang, sesekali dicampur hardikan pelan para petugas kepada puluhan fotografer yang berdesakan.
Presiden Soeharto, Ny. Tien, keluarga keraton Yogya serta para tamu lainnya mengiringi jenazah. Di luar regol Magangan, kereta jenazah Kiai Rata Pralaya sudah menunggu. Kereta berwarna kuning emas itu telah dihias dengan dua kuintal bunga melati, diselingi bunga mawar, asparagus dan sedikit anggrek apple blossom hite yang diambil dari karangan bunga kiriman Presiden. Bau harumnya merebak ke mana-mana. Sementara itu, di atas kuda cokelat bernama Bayukusuma, manggala yudha (komandan) prajurit keraton, G.B.P.H. Yudaningrat, 31 tahun, menyiapkan para prajuritnya. Ia mengenakan pakaian hitam dengan selempang putih. Pinggangnya dibalut batik bercorak hitam-putih, bersepatu hitam dengan kaus kaki putih. Sebilah keris terselip di pinggangnya, sedang tangan kanannya memegang pedang. Pukul 09.00 Kiai Rata Pralaya yang dikemudikan oleh sais K.R.T. (Kanjeng Raden Tumenggung) Kudawijaya, 70 tahun, dilepas oleh Presiden yang didampingi kakak Sultan, Pangeran Poeroebojo, dan putra Sultan yang tertua, Mangkubumi. Iring-iringan kereta jenazah diawali pasukan musik, terdiri atas 16 tambur, 8 trompet, 19 seruling, 2 gong kecil, dan 2 gendang. Tambur-tambur itu dibalut mori putih, sebagai pertanda belasungkawa, sekaligus untuk meredam suaranya agar tak terlalu bising hingga mengejutkan kuda penarik kereta jenazah. Irama gending yang dibunyikan adalah Laratanis.
Di belakang pasukan musik ini berbaris sekitar 500 prajurit keraton yang terdiri atas 8 bergada. Yang pertama prajurit Wirabraja alias lombok abang, bersenjata bedil panjang dengan kostum merah-merah dan sebagian putih-putih. Lalu prajurit Daeng, Jagakarya, Patangpuluhan, Prawiratama. Disusul prajurit Nyutra dengan kostum kuning merah dan kuning-hitam, bersenjatakan tombak panjang. Kemudian prajurit Ketanggung dan Mantrijero. Di belakang kereta, tampak mengiringi seekor kuda tanpa penunggang tapi lengkap dengan pelana. Kuda hitam mulus yang berwarna Kiai Slamet ini dulu biasa ditunggangi Sultan bila berkunjung ke daerah. Di belakang iring-iringan ini, barulah bis-bis yang padat dengan pelayat dibariskan. Sembari berjalan, di depan kereta, beberapa abdi dalem menyebarkan saur — beras kuning dan uang receh, dicampur dengan kembang mawar, melati, dan kenanga yang segera menjadi rebutan orang. Dengan pelan dan susah payah Iringan itu menyeruak di antara khalayak yang memadati jalan. Sebentar-sebentar iringan itu terhenti oleh desakan massa. Massa yang melaut itu memang campur aduk. Tua, muda, semua berbaur dan berdesakan. Sesekali terdengar isakan atau tangisan “Ingkang Sinuhun” atau “Ngarsa Dalem”.
Pukul 09.38 Kiai Rata Pralaya melewati jalan di tengah beringin kembar di alun-alun selatan. Ini juga bagian dari tradisi yang telah berjalan sejak zaman Hamengku Buwono I. Setiap raja yang wafat, jenazahnya harus dilewatkan di antara beringin kembar di alun-alun selatan. Sedang bila raja bepergian, ia harus melewati sela-sela beringin kembar di alun-alun utara. Empat puluh lima menit setelah diberangkatkan, kereta jenazah melewati gerbang Nirbaya, keluar dari kompleks keraton. Kerumunan massa makin menggila jumlahnya. Mereka memadati, bukan saja sisi jalan, tapi juga pohon, atap rumah, tembok, atau tempat mana pun yang bisa ditenggeri. Di pinggiran kota, massa makin membludak. Hampir tak ada tempat kosong yang tak diisi orang. Berlapis-lapis. Berjejal-jejal. Tumplek bleg. Padat. Sangat padat. Fantastis memang. Susah ditaksir berapa jumlah orang yang hari itu berdesakan di pinggir jalan sepanjang Yogyakarta-Imogiri yang berjarak sekitar 17 kilometer. Ratusan ribu. Atau mungkin di atas satu juta orang.
Banyak yang datang dari daerah lain. Satu rombongan yang datang dari Pasuruan, Jawa Timur, misalnya, langsung menuju batas kota, begitu mereka sampai di Yogya pada Jumat malam. Dari udara, iringan kereta jenazah itu tampak memanjang tak terputus, bererotan sepanjang beberapa kilometer. Cuaca Yogya yang hari itu agak mendung, menolong para penonton. Namun, buat para pelayat dalam lebih dari seratus bis, perjalanan “merayapi” jarak 17 km yang harus ditempuh selama lebih dari lima jam itu terasa sangat lama. Namun, di banyak tempat, masyarakat secara spontan menyediakan air putih, teh, dan buah-buahan secara gratis buat mereka yang kepanasan.
Menjelang pukul 15.00 jenazah tiba di pemakaman Imogiri. Di bukit inilah Sultan Agung pada sekitar 1629-1630 memerintahkan dimulainya pembangunan makam untuk dirinya. Ada 454 anak tangga yang dipahatkan di dinding bukit untuk mencapai puncaknya. Kini kompleks makam ini dibagi dua, untuk keluarga Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Hamengku Buwono IX dimakamkan di Astana Saptarengga, salah satu bagian makam ini. Diawali dengan salvo tembakan yang dilepaskan oleh satu peleton Banteng Raiders, jenazah Sri Sultan yang dipayungi payung kuning kebesaran, diusung ke Astana Saptarengga.
Di masjid Pajimatan, yang terletak di kaki bukit, jenazah Sultan disalatkan dulu sebelum diusung ke atas. Para pengusung peti jenazah adalah para abdi dalem gladak yang berbaju merah, topi merah dengan kain jumputan biru ceplok putih. Mereka dibantu oleh dua peleton Kopassus dan Banteng Raiders, yang memang diperlukan untuk mengangkat peti jenazah yang berat itu ke puncak bukit. Mendekati Astana Saptarcngga, suara dikir terdengar makin keras. Menggetarkan, sekaligus memilukan. Lailahailallah. Lailahailallah. Tiada Tuhan selain Allah. Hanya pelayat yang mengenakan kain, blangkon, dan baju peranakan buat pria, serta kain dengan kemben buat wanita, yang diizinkan masuk. Alas kaki harus dilepas. Memotret juga terlarang. Dubes AS Paul Wolfowitz dan dubes Australia Bill Morisson — keduanya bersama istri tampak mengenakan peranakan dan kemben.
Astana Saptarengga merupakan sebuah kompleks makam seluas 20 X 20 meter, dikelilingi tembok setinggi 2,5 meter. Di sini berdiri sebuah bangunan cungkup seluas 7,7 X 7,7 meter, beratap genting, berdinding kayu jati. Pintu dan dinding selatan cungkup ini dibuat dari kaca. Dalam cungkup ini terdapat makam Hamengku Buwono VII dan VIII, serta enam makam lainnya, antara lain permaisuri Hamengku Buwono VIII serta istri kedua dan keempat Hamengku Buwono IX. Di samping makam Hamengku Buwono VII dan VIII itulah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dimakamkan. Makam ini telah beberapa tahun sebelumnya disiapkan. Lubangnya telah digali dan dilapis semen, lalu diisi pasir. Karena ukuran peti jenazah Sultan ternyata sangat besar, beberapa hari sebelumnya lubang makam itu telah diperbesar. Pelan-pelan, dibantu dengan kerekan, peti jenazah Sultan diturunkan. Dari empat penjuru terdengar empat anggota TNI-AU meniup trompet membunyikan Sangkakala. Suasana hening. Seorang abdi dalem modin lalu membacakan doa, yang diamini oleh sekitar 150 pelayat yang duduk bersila dalam kompleks makam.
Beberapa pelayat menengok ke atas, ke arah langit. Semua yang hadir lalu ikut menengadah. Di langit yang biru tampak segaris tebal awan putih melengkung, bagai pelangi. Jelas itu bukan asap pesawat Jet. Dan ketika tampak sepasang burung balam mencok di atas gapura Astana Saptarengga, sejumlah hadirin pun mengangguk penuh arti, seakan mengerti pertanda apa semua ini. Pukul 17.00, pengurukan makam usai. Sepasang nisan kayu dipasang, lalu payung kunig ditancapkan di sebelah kepala makam. Usai penguburan, istri Almarhum Sultan Hamengku Buwono IX yang hadir, K.R.Ay. Hastungkoro dan K.R.Ay. Nindyokirono, diikuti putra-putri Sultan dan keluarga lainnya melakukan upacara ngabekten, melakukan sembah pada makam Sultan. Disusul kemudian dengan penaburan bunga. Pukul 19.00 Astana Saptarengga telah sepi. Tinggal enam abdi dalem yang bertugas jaga yang masih tinggal, untuk membersihkan makam. Langit sudah gelap. Pelangi putih itu tak kelihatan lagi. Sri Sultan Hamengku Buwono IX telah dimakamkan. Susanto Pudjomartono dan I Made Suarjana (di Yogya). Sumber:
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1988/10/15/NAS/mbm.19881015.NAS28386.id.html
0 Responses

Posting Komentar