Tampilkan postingan dengan label Hamengku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamengku. Tampilkan semua postingan
Unknown

TEPAT pukul 08.30 buka gending berupa pukulan kendang/beduk berbunyi. Lalu gending Monggang dari gamelan Kiai Guntur Laut pun mulai mengalun. Iramanya kedengaran seperti meratap, menyayat sepi. Tanpa didahului pidato atau pengumuman sepatah kata pun, 14 prajurit Kopassus yang berbaret merah, berseragam loreng, pelan-pelan mengangkat jenazah Sultan Hamengku Buwono IX, yang sejak Jumat, sehari sebelumnya, disemayamkan di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta yang berkarpet merah itu. Payung kuning, yang semula dipasang di dekat peti jenazah pun dicabut, mengikuti prosesi. Lebih dari empat ribu pelayat yang hadir berdiri. Peti yang sewaktu tiba dari Jakarta ditutupi bendera merah putih itu kini telah diselimuti kain satin putih. Roncean kembang melati menghiasi peti tersebut. Bau wangi kembang dan dupa menyerbak ke segala penjuru. Gending Monggang terus mengaduh, dibunyikan oleh sepuluh penabuh,
Unknown
Kesederhanaan Hamengkubuwono IX
Kaos kaki berlubang. Tiga kata itu mungkin menjadi kunci cerminan bahwa almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah sosok yang sangat humanis dan penuh kesederhanaan. 
Seorang sekelas Sri Sultan HB IX, yang panggilan kecilnya Dorojatun, dengan gelar saat itu sebagai Raja Yogyakarta sekaligus Gubernur Provinsi DIY tidak malu menggunakan kaos kaki berlubang dan longgar.
"Kesederhanaannya tercermin saat beliau menonton sepakbola seorang wartawan melihat di kaki beliau terpasang kaos kaki berlubang dan longgar. Sampai-sampai untuk menahan melorotnya kaos kaki digunakan gelang karet untuk mengikatnya," kata Sri Sultan IX dalam orasinya yang disambut tepuk tangan kagum dengan cerita itu.
Keponakan almarhum Sri Sultan HB IX, KRM Maswito, anak dari GMRT Karto atau GBPH Prabuningrat yang menjadi pendamping Sri Sultan HB IX, membenarkan soal cerita kaos kaki berlubang dan longgar yang sering digunakan almarhum. "Hidup sederhana benar. Seperti yang tadi dikemukakan Pak Sultan seperti itu tidak pernah berhias, sampai beliau memakai kaos kakinya longgar ada yang punya dokumen bahwa kaos kakinya bolong, ada lubang. Itu dilihat saat beliau menyaksikan pertandingan bola di lapangan Mandala Kridosono waktu itu," kisah Maswito.

Unknown

Penggagas Serangan OEMOEM 1 Maret

Setelah penangkapan Belanda terhadap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia, PBB mengalami kegemparan. Nehru, Perdana Menteri India menuding Belanda sudah melakukan perbuatan biadab tak tahu malu. Kemarahan Nehru ini didukung oleh anggota-anggota PBB lainnya. Yang paling galak adalah Australia, Australia meminta Belanda mematuhi etika hukum Internasional karena sudah berulang kali Belanda berunding denganpihak Indonesia baik melalui pihak ketiga atau Komisi Tiga Negara danKomite Jasa Baik dengan begitu Belanda mengakui eksistensi negara RI,sementara penyerbuan kemarin itu dinyatakan Belanda sebagai aksi Polisionil
Unknown

"Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”

Dilahirkan di nDalem Pakuningratan kampung Sompilan Ngasem pada hari Sabtu Paing tanggal 12 April 1912 atau menurut tarikh Jawa Islam pada tanggal Rabingulakir tahun Jimakir 1842 dengan nama Dorodjatun. Ayahnya adalah Gusti Pangeran Haryo Puruboyo, yang kemudian hari ketika Dorodjatun berusia 3 tahun Beliau diangkat menjadi putera mahkota (calon raja) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataram.

Sedangkan ibunya bernama Raden Ajeng Kustilah, puteri Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Raden Ayu Adipati Anom.